fbpx

Rumah Anda Berhantu ? Ini Tips Cara Menjualnya

BProperty.id, Jakarta – Stigma Masyarakat di Indonesia, jika rumah kosong
yang lama tidak ditempati, rumah bekas tempat bunuh diri atau bahkan rumah yang pernah terjadi kasus pembunuhan akan di cap sebagai rumah berhantu dan ini sudah menjadi santapan kita sehari-hari sebagai orang Timur yang masih kental dengan kepercayaan mistis.

Seperti di lansir dari laman Propertyinside.id,Bagi pemilik rumah, tentu ini menyulitkan mereka jika ingin menjual rumah tersebut. Bahkan jika rumah itu sudah dipugar atau diruntuhkan dan dibangun kembali. Desas-desus dari tetangga kanan kiri akan menjadi buah bibir di lingkungan sekitar.

Apalagi jika kejadian bunuh diri atau kasus pembunuhan itu sempat viral di media sosial dan pemberitaan online yang begitu mudah disebarkan di era digital ini.

Biasanya sang pemilik rumah akan menjual melalui agen-agen properti untuk memudahkan atau mungkin bertujuan untuk menutupi informasi “gelap” tentang histori rumah tersebut.

Sebenarnya tidak hanya orang Timur seperti kita yang percaya hal-hal mistis seperti ini. Bagi orang Barat pun kondisi seperti ini sungguh terjadi. Para penjual properti rumah yang dalam tanda kutip berhantu, kerap kali menyembunyikan fakta tentang sejarah rumah tersebut.

Proyek Hambalang (sinarharapan.net)

Di Amerika, setiap negara bagian memiliki undang-undang yang berbeda mengenai kewajiban penjual untuk mengungkap fakta mengenai kekurangan/kelemahan properti yang akan mereka jual.

Sejak tahun 1960-an, telah ada perubahan di AS yang mewajibkan pembeli waspada atas rumah yang akan dibeli. Biasanya berbentuk formulir yang terperinci mengenai kondisi properti yang akan dijual.

Agen penjual diwajibkan untuk menjawab pertanyaan tentang kelemahan rumah, meski “rumah berhantu” tidak dianggap sebagai fakta material, dan tidak dianggap sebagai persyaratan yang wajib diungkap di semua negara bagian di Amerika.

California, misalnya, memiliki undang-undang pengungkapan yang lebih ketat. Hukum Perdata mereka mengamanatkan bahwa agen penjual wajib memberi tahu pembeli jika terjadi kasus kematian akibat kekerasan tiga tahun sebelum penawaran pembelian.

Menara Saidah (liputan6.com)

Namun, ada juga kasus pembeli “rumah berhantu” yang menarik. Terkadang desas-desus status “rumah berhantu” tersebut dikondisikan hanya untuk mendapatkan diskon atau agar dapat dijual murah.

Randall Bell, seorang Makelar di California mengatakan bahwa properti yang distigma berhantu biasanya dijual 10% hingga 25% lebih rendah daripada harga pasaran.

“Persepsi adalah segalanya untuk kasus-kasus rumah dengan stigma horor seperti ini, sebab itu perlu berkonsultasi kepada calon pembeli sebelum menjual rumah dengan desas-desus tentang pembunuhan kultus atau ritual setan,” ungkapnya seperti dilansir daily.jstor.org beberapa waktu lalu.

Senada dengan Randall, praktisi properti Ramdan Fitrahubaib menyebut bahwa adalah kewajiban seorang pemasar untuk menjelaskan secara lengkap tentang kondisi dan sejarah rumah yang bakal dijual, agar tidak terjadi permasalahan di belakang hari.

“Para pemasar properti wajib hukumnya menjelaskan secara apa adanya mengenai kondisi properti kepada calon konsumen. Kalau mereka akhirnya tahu di kemudian hari dan melakukan komplain, yang akan repot ya si agen itu sendiri nantinya,” jelas Ramdan kepada PropertyInside.

“Rumah berhantu”, jelas Ramdan, hanya stigma yang menempel. Dia tidak akan berpengaruh kepada orang yang tidak percaya pada hal-hal mistis.

“Jadi tidak ada masalah jika si pembeli itu orang yang tidak percaya mistis, mereka tetap akan membeli koq. Intinya, si penjual harus jujur kepada pembeli, itu saja,” tegasnya.

Memang sebenarnya bahwa kepercayaan irasional seharusnya tidak memiliki dukungan hukum, dan dengan demikian penjual tidak diharuskan untuk mengungkapkan stigma seperti pembunuhan dan angker.

Hal ini jelas tidak bisa dijadikan aturan baku, namun demikian, sang agen/broker atau tenaga pemasar properti wajib menjelaskan dengan jujur.

Di New York pada tahun 1989 pernah terjadi kasus seorang pria membeli sebuah rumah besar bergaya Victoria di Nyack, dia tidak mengetahui cerita-cerita lokal tentang hantu-hantu era Revolusi yang katanya menghuni tempat tersebut.

Dia menuntut untuk dibebaskan dari kontrak, karena makelar tidak mengungkapkan reputasi rumah itu. Si pembeli mencatat bahwa dia sendiri tidak percaya pada hantu, tetapi khawatir tentang efek pada nilai properti miliknya yang bakal anjlok.

Taman Festival Bali yang terbengkalai dikabarkan angker dan berhantu. (kintamani.id)

Kasus ini akhirnya disidangkan dan kemudian naik banding. Pada tahun 1991, putusan pengadilan banding setuju dengan si pembeli. Akibatnya, hukum real estat disana berubah secara singkat, yang mensyaratkan pengungkapan sifat berhantu rumah.

Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong, menyebut intinya si penjual harus jujur, namun tidak semua harus dijelaskan, karena bisa saja si pembeli memang tidak percaya hal-hal seperti itu.

“Memang tidak ada kewajiban menjelaskan, namun jika ditanya si agen memang harus jujur. Tips bagi pembeli dan agen kepada penjual mungkin bisa meminta diskon harga. Tapi untuk properti baru, apalagi di lokasi prime, hal-hal mistis seperti ini tidak terlalu berpengaruh,” ungkap Lukas kepada PropertyInside.id.

Sumber : Propertyinside.id

Back to top

Related Posts

Tinggalkan Balasan